Hegemoni Kapitalis Liberal dan Pemuda Saat Ini

TULISAN LAMA SAYA (TAHUN 2014) YANG BELUM SEMPAT DI PUBLISH. DARIPADA MEMBUSUK DI LAPTOP.

Pemuda adalah agent of change (agen perubahan). Jargon itu dapat dikatakan benar adanya. Banyak perubahan di dunia, khususnya di Indonesia dilakukan oleh kaum muda. Mulai dari lahirnya organisasi mahasiswa pertama di Indonesia, Sumpah pemuda, Revolusi kemerdekaan Indonesia hingga peristiwa 1998, semuanya tidak lepas dari peran pemuda khususnya mahasiswa. Pemuda seakan – akan sudah dicap sebagai simbol dari perubahan. Rasa ingin tahu yang tinggi, darah panas meledak – ledak, semangat yang menggelora, dan idealis dengan idenya seakan – akan sudah sangat melekat dengan yang namanya pemuda dan mahasiswa. Kaum yang selalu mewarisi semangat perubahan, sepertinya memang benar jika dilabelkan pada pemuda dan mahasiswa masa lalu.

Tapi, dari waktu kewaktu sepertinya jargon dan label itu sudah semakin terlihat tidak relevan. Mahasiswa seakan lupa atau malah terkesan tidak mau tahu dengan hal – hal disekitarnya. Mahasiswa jadi cenderung apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Keapatisan ini malah semakin diperparah dengan gaya hidup konsumtif yang mengarah ke gaya hidup hedonisme. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri dan memusatkan diri pada pencarian kesenangan akan utopis surga dunia. Hal ini disebabkan oleh hegemoni yang dilakukan oleh kaum-kaum Kapitalis Liberal yang salah satunya melalui media informasi. Pengertian Hegemoni sendiri menurut Antonio Gramsci, seorang pemikir Italia dalam buku prisoner’s notebook, hegemoni adalah dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar yang bersifat moral, intelektual serta budaya.

Kapitalis Liberal mempropagandakan ide-idenya yang berupa gaya hidup bebas individualis  yang kontra perubahan melalui musik, media informasi dan semua hal-hal yang menyangkut kultur pop.  Ketika seluruh dunia terkoneksi dalam jaring globalisasi doktrinasi ide menjadi semakin mudah. Ide – ide kearifan lokal yang diwarisakan oleh para pendahulu kita kalah dengan ide – ide introduksi dari luar. Kita dibombardir dengan semua ide – ide khas kapitalis. Ketika ide – ide itu disampaikan secara berulang – ulang wajar jika akhirnya ide itu berevolusi menjadi kesadaran kolektif. Pada akhirnya kita mengamininya dan bisa saja suatu saat nanti akan ada satu budaya superior di dunia. Ide superior yang berhasil menghegemoni seluruh dunia.

Ide-ide black propaganda yang dilakukan oleh para kaum Kapitalis Liberal itu akhirnya mengalienasikan kesadaran para pemuda akan hakikat fungsi mereka sebagai agent of change. Mereka akhirnya bertransformasi menjadi sosok pemuda-pemudi yang apatis, konsumtif dan hedonis. Bisa dibilang gara-gara media informasi itu, kita telah menjadi korban brainwash masal. Kesadaran kolektif ini tidak hanya ada pada ruang lingkup kehidupan golongan pemuda saja tapi sudah merabah kesemua golongan, golongan orang tua dan anak kecil. Benar seperti kata Jim Douglas Morisson, punggawa band legendaris The Doors, siapa yang menguasai media, dia menguasia pikiran.

Jika, kita terus seperti ini, maka siapa yang akan memajukan Bangsa Indonesia ini? Bagaiman nasib anak cucu kita nanti? Apakah anak cucu kita akan meniru gaya hidup kita? Akhirnya, jangan kaget jika suatu saat nanti kita akan kehilangan jati diri bangsa kita, yaitu bangsa yang bergotong royong, yang idenya kontra dengan budaya kita saat ini, apatis, konsumtif dan hedonis. Sesungguhnya penyeragaman pikiran dan watak pemuda-pemudi saat ini ditanamkan agar bersifat otomatis-mekanis, menerima dan bergerak sepeti mesin. Selamat datang dalam dunia yang seragam dan egois.

Untuk melawan hegemoni kaum kapitalis Liberal tersebut, mahasiswa sebagai kaum intelektual masa depan harus menjalankan fungsi intelektualnya murni untuk mengabdi kepada masyarakat. Mereka harus menjadi kaum intelektual organis. Pengertian kaum intelektual organis sendiri adalah kaum yang berusaha menanamkan ide, menjadi bagian dari penyebaran ide-ide yang ada di masyarakat dari kelas yang berkuasa, serta turut aktif dalam pembentukan masyarakat yang diinginkan. Arah pembentukan masyarakat yang kita semua inginkan disini jelas, masyarakat yang adil, sejahtera dan berdaulat dalam segala bidang. Jadi, sebagai kaum intelektual organis kita harus mampu menyebarkan nilai-nilai kebenaran akan kondisi realita yang sebenarnya terjadi disekitar kita kepada seluruh masyarakat. Yaitu melalui pemberdayaan yang berupa pendidikan yang berorientasi pada pembebasan. Lalu, secara perlahan proses counter hegemony yang kita lakukan ini akan menghapus ilusi-ilusi budaya yang selama ini diciptakan oleh kaum Kapitalis Liberal untuk memperdaya masyarakat kelas menengah dan kelas bawah. Jika kesadaran dogamatis ini tidak kita lawan, mungkin beberapa tahun kedepan ide itu akan mejadi norma, siapa tahu?

Advertisements

Melihat OSPEK (tulisan sepintas lalu)

Setiap tahun ribuan lulusan Sekolah Menengah Atas atau SMA berondong – bondong berebut untuk mendaftar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Menurut data statistik resmi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi melalui website resminya, dalam tahun 2014 sebanyak 125.406 peserta dinyatakan lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sedangkan menurut berita yang dilansir dalam media online okezone.com edisi rabu 18 maret 2015, tahun ini sebanyak 852.093 siswa sma/sederajat mendaftarkan diri melalui jalur SNMPTN. Menurut Koordinator Sekretariat Pokja Humas Panitia SNMPTN 2015, Bambang Hermanto mengatakan, jumlah pendaftar tahun ini meningkat 9.5 persen dibandingkan tahun lalu yang ditandai pula peningkatan jumlah unit sekolah yang mengisi PDSS di seluruh provinsi, dan secara khusus meningkat cukup signifikan untuk kawasan Indonesia Timur (okezone.com). Peningkatan jumlah peserta yang mendaftarkan diri untuk masuk perguruan tinggi negeri ini menunjukan naiknya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, khususnya pendidikan perguruan tinggi. Melalui kesadaran akan pentingnya pendidikan ini, nantinya  diharapkan akan mulai tumbuh pemuda – pemudi lulusan PTN yang memiliki karakter leadership dan peduli terhadap lingkungan. Karakter tersebut terdapat dalam amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi. Khususnya seperti yang diamanatkan oleh bagian ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, pengabdian pada masyarakat. Diharapkan nantinya lulusan perguruan tinggi ini akan menjadi pemimpin baru / local leader yang akan membangun lingkungan dimana dia tinggal. Maka dari itu wacana pembentukan karakteristik kepemimpinan dalam diri mahasiswa menjadi salah satu hal yang wajib dan utama.

Salah satu agenda wajib awal yang ditawarkan oleh perguruan tinggi pada peserta didik atau mahasiswa baru adalah OSPEK. Ospek sendiri adalah kepanjangan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan kehidupan kampus dan karakter mahasiswa. Nantinya diharapkan setelah mahasiswa mengikuti kegiatan ospek ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana mekanisme pendidikan di perguruan tinggi, bagaimana budaya akademika, bagaimana karakter mahasiswa yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan hal – hal lain yang bersangkutan dengan kehidupan kampus. Agenda ospek ini merupakan agenda yang menjadi tanggung jawab Perguruan Tinggi dan proses pelaksanaannya melibatkan struktur birokrasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif dan Badan Legislatif di tingkat Universitas, Fakultas, dan Jurusan (Program Studi).

Salah satu tujuan dari ospek adalah pembentukan karakter awal mahasiswa baru. Kegiatan ini akan berjalan dengan baik jika mekanisme pelaksanaannya terencana dan tepat sasaran. Tetapi nyatanya pelaksanaan di lapangan tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan awal diadakannya kegiatan ini. Kegiatan ini sering kali diisi oleh kekerasan verbal dan tidak jarang dalam bentuk fisik. Apalagi dengan konsep senioritas, dimana junior harus patuh terhadap senior. Beberapa contoh kasus dilapangan membuktikan perploncoan yang mengatasnamakan ospek. Sebagai contoh kasus di ITN Malang beberapa tahun silam yang menewaskan salah satu pesertanya. Selain itu contoh paling baru adalah kekerasan perploncoan yang terjadi di IPDN yang menewaskan mahasiswa tingkat tiga asal Sulawesi Utara. Selain kekerasan secara fisik, kekerasan secara verbal juga patut diperhitungkan dampak negatifnya. Para peserta dipaksa untuk menuruti apa yang diperintahkan senior. Ketika mereka mencoba berargumentasi, mereka dihukum. Bukannya dilatih untuk kritis dan berani berargumen, mereka malah diajarkan untuk pasif, patuh dan menerima apa saja yang diperintahkan kepada mereka. Ketika hal ini terus berlanjut kita harus melihat faktor psikologis yang mungkin akan diderita oleh peserta ospek, baik secara mental maupun pola berfikir.

Melihat dari realitas dilapangan inilah, sekiranya kita harus mengkaji ulang tentang penting tidaknya diadakan ospek. Pada hakikatnya jika kita merujuk pada esensi dasar diadakannya ospek ini, kita dapat melihat banyak sekali segi positif yang akan didapatkan dari kegiatan ini. Tetapi minimnya kontrol dari pihak yang memiliki otoritas di kampus, menyebabkan penyelewengan ini kerap terjadi. Selain itu faktor lainnya adalah kurangnya kesadaran dari pihak yang bertanggung jawab dalam hal ini panitia pelaksana, terhadap esensi dari kegiatan ini sendiri. Mereka sebagai panitia pelaksana mengganggap kegiatan ospek ini sebagai ajang balas dendam, dimana mereka merasa pentingnya melanjutkan culture ospek yang turun temurun diterapkan ini. Mereka beralasan bahwa ini adalah tradisi, tanpa mengkaji ulang poin – poin positif maupun negatifnya. Mereka mengatasnamakan tradisi dan menolak diskursif wacana. Apalagi ditambah sifat ketidaklegowoan yang menyebabkan penyelewengan ini terus terjadi dan menjadi pembenaran.

 

Akun Lama Sudah Ditinggalkan

Melihat dari postingan di akun lama saya di dialektikajaman@wordpress.com, saya memutuskan untuk berhenti memposting tulisan saya disana. Mungkin jika ditanya alasannya saya akan menjawab, pertama blog itu hanya berisi puisi kenangan masa lalu yang membuat saya ketawa (menangis dalam hati) setiap membacanya, yang mau tidak mau pasti terbaca ketika memposting sesuatu. Kedua, pemikiran saya sudah berbeda dari blog yang saya buat tahun 2014 silam, jadi dirasa perlu untuk membuat blog baru. Ketiga saya tidak mau bernostalgia.
Oke semoga menikmati (tapi kayaknya ga pernah ada yang buka blogku deh. hahaha)